Jumat, 21 Oktober 2011

Bebas Karena Babi Hutan

Beberapa bulan menjadi seorang mahasiswa, terdapat perbedaan mendasar dalam diri saya, kebebasan. Yah, kebebasan yang saya dapat melebihi kebebasan ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Ditambah, saya kuliah nun jauh di pelosok Bandung coret sana, tepatnya di Jatinangor. Nama daerahnya saja saya baru dengar ketika teman dekat abang saya mengantarkan ke kampus untuk pertama kalinya.
          ”Ry, kampus lo nanti di sini, ini Jatinangor,” katanya seingat saya.
          Muncul beberapa kali kalimat dalam hati yang sedikit mencoba untuk menenangkan kegundahan saat itu.
“Daerahnya lumayan sejuk, tidak bising seperti Jakarta, pasti menyenangkan. Harus betah, harus betah,” gumam saya.
Satu kata yang justru tidak terpikirkan ketika itu adalah ya kebebasan itu. Yang ada di pikiran saya, berjuang sendirian selama kurang lebih lima tahun, mendapatkan gelar sarjana komunikasi dan secepatnya kembali ke ibukota. Tidak ada yang penting selain itu. Ternyata pikiran saya salah. Saat sadar memiliki kebebasan lebih saya mulai berpikir macam-macam. Muncul satu pertanyaan di benak saya, mau dipakai untuk apa kebebasan ini? Yang pertama, saya bebas menentukan apa yang saya mau dan apa yang saya tidak mau. Walaupun keputusan saya keliru, toh tidak ada orang yang peduli, kan keluarga di Jakarta. Mereka pasti berpikir saya baik-baik saja. Mama pernah berpesan, hidup sendiri itu tidak mudah. Menurutnya, saya yang mengendalikan pikiran saya, oleh sebab itu, saya bertanggung jawab terhadap hasil yang saya capai atau tindakan yang saya lakukan, jangan pernah menyalahkan orang lain.
Di suatu Kamis sore, pulang kuliah, saya dan teman satu kos duduk di beranda. Saya kenalkan sekilas. Yang pertama Iman, asal Pandeglang, melihatnya pertama kali saya sudah mampu memastikan bahwa pemuda ini jebolan pesantren di sana. Kedua Dadang. Ia tidak satu kos dengan saya, tapi karena bersahabat dengan Iman, ia sering ikutan nongkrong di kos kami. Kemudian Ahmad, pemuda dari Cianjur, pernah mengaku punya beberapa hektar sawah. Lalu Saidu, pemuda asal Flores yang nada dan gaya bicaranya tak ubahnya seperti lawakan bagi kami. Terakhir, seorang senior yang sudah dua tahun menghuni kos tersebut, sebut saja namanya Fahmi. Kami punya kebiasaaan unik, menggoda mahasiswi yang lewat. Hehehe, itu sih bukan unik, memang norak aja kali ya? Ya, mohon dimaklumi, sedang mencari jati diri sih.
Hari makin gelap saat Saidu mencetuskan ide brilian.
“Naik Gunung yok!”
“Yang mana?” Sambut Fahmi.
“Yang belakang kampus kita saja, lebih menantang.” Saidu menimpali.
Rasa kebebasan yang saya miliki mendorong untuk bersuara.
“Ayo, siapa takut? Kalau perlu malam ini juga kita jalan.” Seru saya waktu itu.
”Woi, jangan takabur, malam Jumat nih.” Iman mengingatkan.
Dadang hanya cengar cengir saja, Fahmi ayo saja, Saidu makin semangat, Iman yang ikut juga, Ahmad sedikit bimbang dan saya, saya seperti mendapatkan tantangan yang mengasyikkan. Ternyata, menjadi bebas itu nikmat. Yang saya ingat, kami akhirnya sepakat untuk jalan malam itu juga pukul 9.
Tepat pukul 9, kami bergerak menuju gerbang depan kampus. Ada sedikit rasa heran di hati saya, mengapa kami tidak selayaknya seperti yang ingin naik gunung? Peralatan yang kami bawa hanya golok yang dibawa Fahmi. Saya dan teman yang lain sama sekali tidak membawa alat, setidaknya untuk perlindungan. Malah, kami seperti sedang ingin bertamasya, membawa roti dan air jeruk dalam kemasan botol mineral. Saya berpikir, pasti cepat sampai, karena jalurnya sudah ada dan tinggal dijalani saja. Toh, Fahmi mengaku, sudah sering ke puncak gunung itu. Jadi, kami percaya saja.    
Hampir tengah malam kami sampai di kaki gunung. Sesaat meneguk air untuk melepas dahaga. Rasa kantuk tak sudi datang malam itu, berganti tawa dan saling ejek penghangat malam. Di sela istirahat, Fahmi berdiri. 
”Gue ada usul. Gimana kalau kita potong jalan lewat jalan setapak ini. Harusnya sih lebih cepat. Kalau lewat jalur yang biasa, kita sampai hampir pagi nanti.”
Sesaat kami saling memandang, walau setelahnya kami mengiyakan. Toh di antara kami, hanya Fahmi yang menguasai jalurnya. Kami lanjutkan perjalanan dengan jalur yang tidak biasa.
Baru beberapa ratus meter kami menaiki lereng yang masih landai, kawanan anjing hutan menyapa kami. Saya pada dasarnya memang tidak suka dengan hewan ini, lebih tepatnya, takut, hehehe... Atas petunjuk dan saran Fahmi, kami berjalan saja, tidak menghiraukan penjaga-penjaga hutan itu melolong bersahut-sahutan.
”Asal kita tidak mengganggu, mereka nggak akan nyerang koq, biarin aja. Tapi hati-hati nanti kalau kita ketemu sama yang namanya babi hutan. Mending menghindar untuk menyelamatkan diri deh,” katanya.
Semakin jauh kami naik, dingin dan gelap semakin akrab, seakan mempersilakan beberapa pemuda tanggung ini untuk menjelajah lebih. Hambatan dan keluhan mulai terdengar, entah siapa yang memulai. Saya sendiri sedikit merasa bahwa perjalanan malam itu tidak akan pernah sampai. Saya merasa, kami salah memutuskan lewat jalur baru ini. Fahmi mulai dilanda kebingungan. Sampai satu saat, ia tidak bisa lagi memimpin perjalanan. Wajahnya diterpa kepucatan, entah apa yang dirasakan. Yang jelas, ia meminta Dadang berjalan di depan. Ia berjalan di belakang saya, posisi paling buncit. Katanya, agar semua lebih terawasi olehnya.
Sambil berjalan, Fahmi membisikkan sesuatu ke telinga saya.
”Ry, kita nyasar.”
Saya kaget mendengarnya sampai teman-teman di depan menoleh. Pandangan saya langsung berkeliling ke segala penjuru. Saya tak habis pikir, dari kos kami, gunung ini terlihat kecil, dan tidak terlalu menantang. Ternyata, apa yang kami lihat, peta yang kami tangkap, tidak mencerminkan gambaran sebenarnya. Kembali saya berpikir mengenai kebebasan. Malam ini saya menyerahkan kebebasan saya kepada gunung ini. Hanya gunung ini yang bisa menunjukkan jalan kita pulang. Tapi, bagaimana mungkin? Kami telah merendahkan gunung ini, sombong dan takabur. Karena sifat kami jualah yang mengakibatkan kami seperti berjalan berputar-putar. Entah sudah berapa kali saya dan teman-teman terjatuh dan terperosok hingga harus menggantungkan tubuh ke ranting-ranting berduri.
Di tengah kepanikan, kami istirahat sejenak. Tak ada yang bersuara waktu itu. Yang saya dengar hanya suara serangga malam bercampur suara angin dan suara anak ayam? Hah, koq suara anak ayam? Kami saling berpandangan, mungkin pikiran kami sudah menciptakan realita kami masing-masing. Pernah ada yang mengatakan, jika berada di tengah hutan, dan ada suara anak ayam, itu sebenarnya adalah wujud lain dari makhluk halus. Sepertinya saya tidak perlu katakan lebih rinci, tidak penting, hehehe...  
Saat itu kami berharap ada petunjuk yang menuntun kami ke jalan pulang. Satu sama lain mulai saling menyalahkan, terutama saya. Saya menyalahkan kenapa kita melewati jalur baru yang belum banyak orang tahu. Fahmi tidak terima dengan alasan jalur yang ditempuh adalah kesepakatan bersama. Ahmad yang sedari tadi tidak banyak bicara mulai ikut andil. Ia mengatakan, ide untuk naik gunung di malam Jumat adalah ide gila. Emosi kami hampir memuncak sampai Iman bicara. Dengan tenang ia katakan, seharusnya kami tidak hanya fokus pada yang dianggap paling benar atau salah, tapi yang paling bermanfaat. Menurutnya, hal yang paling bermanfaat saat itu adalah bersama-sama mencari solusi, jalan pulang. Bukan memperdebatkan kenapa kami sampai seperti ini.
”Kita kan di sini atas keinginan kita, jadi kita pertanggungjawabkan dong keinginan kita itu. Kita punya akal kan? Kita punya sumber daya buat keluar dari sini. Pasti ada jalannya. Tapi, kalau kita begini terus, apa ketemu itu jalan pulang? Kalau mau ketemu, ya kudu dicari atuh. Mau paham, ya lakukan!” Katanya.
Iman bicara seperti seorang guru ngaji di depan santri-santrinya. Kami terdiam, kemudian terkejut karena Iman tersandung akar pohon dan jatuh ke belakang, menerjang semak-semak rimbun.
“Astagfirullah...!!” Teriaknya.
Dadang bangkit dan langsung menolong sahabatnya itu. Iman berdiri sambil tersenyum. Ia menemukan jalan pulang. Ia terjerembab di sebuah parit kecil namun kering.
”Ini sih bukan parit, ini jalur babi hutan. Tapi, kita bisa pakai sebagai penuntun jalan.” Kata Fahmi.
Alhasil kami turun menyusuri jalur babi hutan itu. Rasa was was dan ketakutan menghampiri saya setiap saat. Saya takut bagaimana jika yang punya jalur tiba-tiba muncul? Semakin lama saya akrab dengan jalur babi hutan itu, semakin akrab pula saya dengan keberanian. Menjelang fajar, kami disambut cahaya lampu sebuah rumah. Perasaan lega menyeruak.
”Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Atas petunjuk-Mu saya bisa pulang.”  
Kadang ketika rasa takut yang membuat kebebasan kita terbelenggu justru malah membebaskan kita. Syaratnya, kita tahu apa yang kita hampiri rasa takut itu, lalu perhatikan kebaikan apa yang terjadi setelahnya.
Paginya, saya sudah berada di kelas untuk mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris. Beberapa rekan menanyakan banyaknya luka lecet dan lebam di sekujur tubuh saya. Saya hanya bilang, habis bermimpi indah semalam tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar