Sabtu, 22 Oktober 2011

Internalisasi Empat Ratus Meter


Sobat, sering kita merasa terlalu sibuk karena berbagai urusan, pekerjaan, keluarga dan lain-lain. Karena kesibukan tersebut, sering kita lupa untuk menghargai seseorang, padahal, seseorang ini adalah sosok terpenting dalam hidup kita. Siapa sih? Orang tua? Pasangan? Anak? Atasan? Rekan kerja? Atau siapa pun yang ada di pikiran Anda sekarang. Melalui tulisan ini, saya ingin kita mengingat kembali seseorang yang menjadi sosok terpenting dalam kehidupan kita. Ya, tepat sekali, seseorang itu adalah diri kita sendiri. Ibarat film, diri sendiri adalah pemeran utama dalam kehidupan, jadi justru diri kita sendiri yang harus mendapatkan perhatian nomor satu.
Bagaimana cara kita menghargai diri kita sendiri? Wow, buat saya, banyak sekali. Salah satu cara saya yang hampir tiap hari saya lakukan adalah dengan melakukan internalisasi empat ratus meter. Apa itu internalisasi? Dan mengapa pula empat ratus meter? Internalisasi itu, bagi saya, adalah bahasa lain dari merenung tentang tindak tanduk saya di hari yang lalu. Biasanya, perenungan itu berisi pertanyaan-pertanyaan. Apakah hari yang lalu saya terlibat masalah yang harus diselesaikan secepatnya? Apakah hari yang lalu saya sudah berbuat semestinya sebagai seorang Ary Kurniawan? Nah, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebisa mungkin harus saya temukan solusinya selama perjalanan empat ratus meter. Hah? Perjalanan? Yup, empat ratus meter adalah kurang lebih jarak antara stasiun kereta menuju gedung kantor saya.
Sebagai seorang yang hidup di pinggiran Jakarta, kereta listrik menjadi sarana transportasi terbaik untuk menuju pusat kota. Sudah hampir setahun rutinitas ini saya lakukan. Nah, masalahnya, saya termasuk orang yang menghindari rutinitas yang itu-itu saja. Kalaupun harus mengalami suatu rutinitas, saya harus mengubah rutinitas tersebut menjadi lebih bermanfaat, bukan hanya rutinitas yang sekedarnya. Saya pilih dengan berinternalisasi. Kereta saya berangkat dari Bekasi pukul 6.11 pagi, normalnya, sampai di stasiun tujuan pukul 6.45. Untuk kota seperti Jakarta, menjelang pukul tujuh, kesibukan sudah nampak, namun masih ada sisa-sisa segarnya udara pagi. Sisa-sisa kesegaran ini yang saya manfaatkan. Seringnya, jika sendiri, selepas keluar stasiun, saya memilih berjalan kaki dibanding naik metromini atau ojek. Sayang lho, udara Jakarta yang kesegarannya hanya sisa-sisa itu tidak dimanfaatkan.
Sambil berjalan, saya ingat kembali hari kemarin, hal apa yang harus saya temukan solusinya. Bagaimana saya bisa menemukan solusi dengan hanya melewati empat ratus meter? Yang saya lakukan adalah, saya bicara dengan diri sendiri. Mungkin bagi beberapa orang yang berpapasan dengan saya di sepanjang trotoar itu, saya seperti berkomat kamit tak ubahnya dukun. Tapi biarlah, memang seperti itu koq mekanismenya, bagi saya tentunya, hehehe… Saya hajar semua permasalahan yang ada dengan prinsip-prinsip hidup yang saya pegang selama ini. Salah satu prinsip hidup yang saya anut yaitu, “Jadikan masalah itu sebagai teman, dan solusi sebagai sahabat”. Maksudnya, kita mungkin selalu akrab dengan yang namanya masalah, tapi, jangan takut, justru dengan banyaknya masalah, makin besar peluang Anda untuk mendapatkan solusinya. Masalah itu teman, dan solusi itu sahabat. Kebanyakan sahabat awalnya datang dari teman bukan? Jadi, saya tidak pernah menghindari masalah, justru saya siap hadapi, tentunya dengan kekuatan. Nah, kekuatan saya untuk menghadapi masalah seringnya muncul dari hasil saya berinternalisasi empat ratus meter. 
Lalu, bagaimana bila saya merasa tidak ada masalah yang harus saya pikirkan, saya ulang, apabila saya merasa lho, bukan berarti saya tidak punya masalah. Apabila tidak ada, saya alihkan pikiran saya untuk merencanakan hal-hal apa saja yang harus saya lakukan hari itu. Tetap sih munculnya pertanyaan-pertanyaan juga. Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi orang lain hari ini? Bagaimana saya lebih mengefektifkan hari ini dibanding hari kemarin? Bagaimana bagaimana dan lebih banyak bagaimana. Mau mencoba? Atau selama ini sebenarnya sudah Anda lakukan? Setidaknya sekarang kita memahami, merenung itu bukan kegiatan yang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar