Sabtu, 22 Oktober 2011

Oncom Goreng


Buat saya, akhir pekan adalah saat yang paling tepat untuk menikmati kesendirian. Bahasa kerennya, saya sediakan waktu untuk meeting terpenting, yaitu meeting dengan saya sendiri. Lalu di manakah saya biasa meeting dengan diri sendiri? Bukan di tempat yang terpencil, apalagi tertutup. Tempatnya cukup di beranda rumah. Tak hiraukan si mbak yang mondar mandir bawa cucian yang akan dijemur, Kafka yang teriak-teriak di garasi sambil bersepeda atau mandanya Kafka yang sesekali menengok dan menawarkan minuman atau makanan kecil. Nah, bicara soal makanan kecil, ada satu kesukaan saya. Kalau lagi ngidam makanan ini, pagi harinya saya dan permaisuri pergi ke blok paling ujung perumahan untuk membeli bahannya. Memang apa sih makanan kecil kesukaan saya itu? Sederhana, tampilannya tidak menarik dan murah. Dengan bangga saya katakan, makanan kecil itu adalah oncom, lebih tepatnya oncom goreng.
Sabtu pagi itu sehabis hujan. Ternyata udara Bekasi bisa juga jadi sejuk. Udara dingin, masih pagi, akhir pekan pula. Pikiran saya mengerucut ke makanan kecil kesukaan saya itu, oncom goreng. Saya paksa permaisuri segera berganti pakaian, kalau saya kan cukup dengan celana pendek dan kaos. Saya larikan motor ke blok ujung. Permaisuri belanja kebutuhan dapur, saya, oncomlah yang pertama dicari. Sesampainya di rumah, dengan kecepatan penuh saya delegasikan pembuatan oncom goreng kepada si mbak. Saya ambil koran dan menunggu dengan sabar di beranda. Biasanya kurang dari setengah jam, oncom goreng dan teh manis hangat sudah terhidang di meja teras. Kalau sudah begitu, saya langsung berniat. ”Hari ini akan menyenangkan seperti yang sudah-sudah dan akan datang.” Nikmat ya..?
Baru saja beberapa potong ternikmati oncom gorengnya, suara penanda chat berbunyi di telepon genggam. Sebagai lulusan komunikasi, pantang katanya kalau menunda-nunda proses komunikasi yang terjadi. Saya buka pesannya, ternyata dari seorang sobat yang berprofesi sebagai tenaga pemasaran di kantor.
”Ry, minta saran dong. Bentar lagi gue mau jadi pembawa acara di kantor. Gue grogi berat neh! Apa ya yang bisa menghilangkan groginya gue itu?” Tanyanya.
Hmm, sesaat saya berpikir, tapi bukan berpikir tentang pertanyaan sobat itu, melainkan saya berpikir, saya makan dulu oncom goreng selanjutnya atau saya jawab dulu pertanyaannya? Hehehe... Akhirnya saya putuskan menjawab pesannya terlebih dahulu. Biarlah oncom goreng tetap merangsang saya, sehingga nalar saya dengan lancar keluar untuk menjawab pesan tersebut. Tujuannya, ya lebih cepat pesan dijawab, lebih cepat pula saya melahap oncom goreng berikutnya. Sederhana kan?
”Mudah koq. Cara pertama, lo merem aja, visualisasikan lo di tempat acara dan lo dengan lancar membawakan acaranya. Terus tambahkan tepuk tangan penonton yang meriah menyambut lo.”
”Cara kedua Ry?”
”Yang kedua lebih sederhana lagi. Terserah mau merem atau nggak, lo ngomong aja sama diri lo sendiri, jadi diri sendiri, be natural. Cara kedua ini berhasil koq di gue.”
“Thanks ya Ry!” Kalimat terakhir dari sobat saya menandakan percakapan selesai. Langsung, oncom goreng berikutnya masuk ke mulut.
Hanya selang beberapa menit, telepon genggam saya berbunyi lagi. Kali ini panggilan masuk. Dengan joroknya, saya bersihkan sisa minyak di tangan ke kaos saya. Kalau permaisuri dan si mbak tahu, pasti protes, hehehe... Saya terima panggilan telepon tersebut. Hmm, seorang sobat yang berprofesi sama dengan yang sebelumnya chat dengan saya. Setelah beberapa kalimat pengantar pembuka percakapan, sobat ini bertanya satu hal.
”Ry, nanti gue ketemu tim gue. Ada satu orang yang sukanya becanda melulu. Kadang, gue serius pun langsung dibecandain sama dia. Gue bingung nih. Kalau gue turutin kelakuannya, kan gak enak sama anggota tim yang lain. Menurut lo gimana Ry?”
Saya lirik oncom goreng yang masih tersisa beberapa potong. Lumayan sebagai penyemangat untuk menjawab pertanyaan.
”Menurut gue sih, ini menurut gue ya. Lo nikmati aja dulu candaannya. Resapi lawakannya. Kalau memang ternyata lucu, ya tertawalah, jangan ditahan-tahan.”
”Koq gitu Ry?”
”Lho iya dong. Setiap orang itu memiliki model dunianya masing-masing. Dia punya dunianya sendiri, dan lo juga punya dunia lo. Untuk masuk ke salah satu dunianya, maka harus bisa menyerap apa yang ada di dunia orang lain. Kalau dunia orang itu penuh dengan canda, tertawa, maka ikutilah. Masuklah ke dunianya. Ketika dia tahu dan merasakan lo udah masuk ke dunianya, akan mudah pula dia masuk ke dunia lo.”
“Kalau ternyata mentok gimana Ry?” Tanyanya lagi.
”Pakai cara lain dong, jangan hanya terpaku dengan satu cara. Ingat! Seribu cara untuk satu sasaran.”
”Siap Pak! Hehehe... Tapi gimana cara lainnya? Kalau dia ngga berhenti-berhenti gimana tuh?” Tanyanya makin penasaran.
Hmm, oncom goreng selanjutnya sedikit tertunda nih, pikir saya.  
”Disela dengan cara yang halus dan menyenangkan.” Lanjut saya.
”Misalnya?”
”Ketika waktunya kamu untuk serius, dan dia masih saja bercanda ria, kamu katakan saja kalau pertunjukkan lawaknya atau ludruknya lucu sekali. Terus, minta dia untuk menyimpan terlebih dahulu candanya yang lain, karena mau ada rentetan ”iklan” yang mau lewat. Nah, ”iklan” ini isinya lo yang bicara. Mudah kan?”
”Wah, boleh juga tuh Ry. Ngga nyangka lo ngasih saran itu. Thanks ya Ry.”
”Semoga berhasil ya!”
Percakapan selesai. Telepon genggam saya letakkan lagi di meja, setelah itu saya ambil oncom goreng berikutnya. Anggap saja, oncom demi oncom yang saya nikmati adalah reward percakapan saya dengan dua sobat tadi.  Semoga bermanfaat untuk mereka, mudah-mudahan.
Baru saja saya akan menikmati oncom goreng terakhir, suara penanda chat telepon genggam berbunyi lagi. Kali ini dari sobat lama, sobat di kampus. Ada satu pertanyaan yang menggelitik saya sampai saat ini.
”Ry, untuk ukuran laki-laki, lo termasuk menikah muda. Pertanyaan gue kenapa?”
”Hah?! Masa sih? Waktu menikah usia gue dua puluh enam tahun lho. Buat gue itu itu udah cukup.” Jawab saya.
”Ya itu kan menurut lo, menurut orang lain belum tentu, terutama gue. Coba lo kasih tahu gue alasan apa yang membuat gue lo menikah di usia muda?” Tanyanya kemudian.
”Banyak!” Saya jawab sekenanya.
”Apa?”
”Banyaklah! Bosan disebut pacar, ingin disebut suami. Ingin status di Kartu Tanda Penduduk naik levelnya jadi “Kawin”. Terus, bosan dipanggil Mas, karena ingin cepat punya anak dan dipanggil Pak. Terus ingin punya mertua. Ingin punya rumah dua, rumah orang tua dan rumah mertua.”
“Gelo siah Ry! Hahaha…! Tapi ada benarnya juga ya itu! Hahaha...! Nah, sekarnag jawaban seriusnya dong!” Desaknya.
”Itu justru jawaban seriusnya, hehehe... Nah, kalau jawaban serius lainnya, mengapa menikah muda? Ya karena gue ingin bermanfaat lebih dulu dan lebih lama untuk istri, anak dan keluarga gue. Ingat ya, bermanfaat lebih dulu dan lebih lama dibanding kalau gue menunda-nunda untuk menikah.”
”Kalau memang alasan itu, bagus Ry. Kena nih di gue.”
Sesaat sobat saya terdiam, saya pun terdiam. Cerdas juga jawaban saya itu, saya puji diri saya sendiri. Pasti karena efek dari gizi yang terkandung dalam oncom goreng ini, canda saya dalam hati.   
”Tumben lo jadi cerdas gitu, hehehe... Ya sudah, senang ngobrol sama lo. Terima kasih ya. Selamat hari Sabtu!”
”Sama-sama ya!” Tutup saya.
Oke, langsung saya embat oncom goreng terakhir. Teriakan permaisuri dari dalam rumah terdengar.
“Pandaaaaaa...!! Mandiii...!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar