Tulisan ini saya buat sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan yang lainnya. Saya mengkombinasikan isi sebuah lagu dari salah satu penyanyi idola saya Iwan Fals. Lagunya sendiri berjudul, “Belum Ada Judul”. Dengan hanya diiringi gitar dan harmonika, lagu ini selalu membuat saya berpikir, menelaah hidup. Apa yang sudah saya lakukan untuk hidup ini? Sudahkah saya bermanfaat bagi orang-orang yang saya cintai? Bermanfaat bagi orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar saya? Dan terutama, sudahkah saya bermanfaat bagi diri saya sendiri? Pemaknaan lagu ini semakin sempurna ketika saya berjumpa dengan seorang sobat.
Pernah kita sama sama susah, terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan, digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah, lelah
Sobat, kita pernah ketika sama-sama dilanda kegalauan. Kamu dengan masalahmu, dan saya dengan masalah saya. Diskusi kita selama perjalanan di kepadatan lalu lintas Jakarta, di malam setelah hujannya Ibukota, di kesejukkan malamnya Batavia yang pastinya tidak lama karena lekatnya polusi dan di sela-sela klakson kendaraan yang bersahutan silih berganti. Waktu terus berjalan, tapi kita sepakat bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Kita anggap masalah itu adalah teman. Teman yang pasti membangun kita sebagai individu yang lebih baik. Kita juga sepakat, dalam hidup, tidak ada kegagalan, tidak ada penyesalan, hanya masukan. Sebuah akhir diskusi yang menyenangkan, dengan senyuman dan tangan yang masih harum dengan aroma bebek goreng yang habis kita santap.
Pernah kita sama-sama rasakan, panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya, bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat, masih ingatkah kau
Sobat, masih ingatkah ketika tengah hari kita berjumpa, wajahmu tampak lebih lesu, lelah dari biasanya, seperti ada ganjalan hati. Lalu, tiba-tiba kamu berucap dengan nada tinggi dan hati yang panas. Saya coba dengarkan dengan perhatian penuh. Rasa lapar berhasil dihiraukan. Siang itu kita seperti tak memerlukan yang namanya makan siang. Saya pun tak berselera setelah melihat kamu seperti itu. Setelah kamu keluarkan semua amarahmu, keluh kesahmu, apa yang terjadi? Dengan kesadaran penuh, kamu tenangkan sendiri amarahmu. Kamu hapus langsung keluh kesahmu. Kamu katakan kepada dirimu sendiri semua ini adalah proses menuju kebaikan, menuju impianmu. Seperti, lagu bang Iwan di atas, roda sedang berputar. Saya hanya terdiam. Momen yang berharga. Setiap orang memiliki sumber daya yang dibutuhkan, dan bisa memperolehnya. Dalam keadaan apapun. Senang dan susah. Kali ini sobat saya sedang dalam kondisi yang kedua, susah.
Sebenarnya kamu tidak perlu saya saat itu sobat. Tapi, mungkin kamu hanya perlu orang yang mampu mendengarkan. Buktinya, senyuman ciri khas kamu menyeruak keluar ketika kamu hajar masalahmu dengan keyakinanmu sendiri. Itu senyuman yang sedari tadi tak terlihat. Mungkin, ketika kamu didera masalah, apapun masalah itu, carilah cermin, lalu tersenyum, itu senyuman kebaikan. Sekali lagi, setiap orang memiliki sumber daya yang dibutuhkan. Kamu butuh senyuman itu, bukan untuk orang lain, terpenting untuk diri sendiri. Lha wong ke orang lain bisa berhasil, apalagi ke diri kamu sendiri, iya toh?
Siang itu kami tutup dengan kesegaran soto betawi di daerah Manggarai. Keringat kami deras, menandakan kenikmatan santap siang. Saya yakin, keringat hati kamu juga deras, setelah terperas oleh keyakinan kamu dalam menghadapi masalah. Di perjalanan kembali ke kantor, saya yakin, hati kamu lebih bersih dari sebelumnya.
”Ry, semuanya akan baik-baik saja. Everything will be fine in the end.”
“Pastinya…” Balas saya.
Cukup lama aku jalan sendiri, tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini, tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar, bangkitkan aku, sobat
Sobat, senyuman kamu di kala susah itu menginspirasikan lho. Saya bertanya dalam hati, ilmu apa yang kamu miliki sampai bisa setegar itu. Saya jadi malu sendiri. Sering saya didera masalah, dan hati saya sebagai seorang manusia pun ciut seciut-ciutnya. Seperti tak mau lagi menghadapi masalah apapun. Padahal, dalam hidup, masalah pasti berdatangan silih berganti tak ada habisnya.
Sobat, kamu telah bermanfaat bagi banyak orang, kebaikan menjadi jalan hidupmu. Lalu, bagaimana dengan saya? Dalam satu momen, kamu mengingatkan saya dengan pertanyaan.
”Ry, kamu bisa menulis? Koq ngga pernah bilang? Kalau punya kemampuan itu, kenapa tidak coba menulis?”
Saya tidak menjawab waktu itu, hanya tersenyum getir. Ia pun tersenyum. Tapi senyumannya terasa beda, lebih pedas. Seperti kata Bang Iwan, kau tampar melalui senyuman itu. Kamu punya impian yang jelas. Saya? Terbayang langsung impian-impian saya. Salah satunya buku ini. Kemana saja saya selama ini? Saya memang punya impian menulis sebuah buku, namun hanya sebatas impian, karena saya tidak mengeluarkan seluruh sumber daya yang saya miliki untuk mencapainya. Sobat, kamu benar-benar menampar saya kali ini. Segala sesuatunya berhubungan, kenal kamu, diskusi dengan kamu, impian kamu dan sekarang, impian saya. Nilai positif kamu akan saya pertahankan secara permanen sampai impian ini tercapai. Kalau mau paham, lakukan dan kejar impian, jika ada masalah dalam prosesnya, ingat saja, semuanya akan baik-baik saja.
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
Oh ya, sampai saat ini, sobat saya ini berada tidak jauh dari saya. Saya tahu, ia dendam dengan impiannya. Ia mengejar impiannya, saya mengejar impian saya, kami saling menguatkan. Ada satu pesan saya untuk tulisan saya tentangnya.
“Ry, tulis saja namaku LyDeA.”
Sobat, sudah saya penuhi keinginan kamu. Dari hati yang terdalam, dengan segala ketulusan, saya dan orang-orang terdekat saya mengucapkan beribu terima kasih. LyDeA, senyum kamu menginspirasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar