Ketika menulis cerita ini, saya baru saja kembali dari rangkaian tugas yang menyenangkan. Tour of duty di beberapa kota seperti Malang, Semarang, Yogyakarta, Depok, Palembang, Padang, Bukit Tinggi, Cianjur dan terakhir Sukabumi. Tugas sebagai seorang Trainer di perusahaan asuransi jiwa nomor wahid di Indonesia, membuat hidup saya lebih dinamis, kaya hal baru dan yang paling penting, mendapatkan sobat-sobat baru yang menginspirasikan. Sobat-sobat di tiap kota yang saya sebutkan itu memberikan kesan menarik dan memiliki keunikannya masing-masing. Nah, cerita ini berawal dari salah satu daerah yang saya kunjungi, Cianjur.
Buat saya, entah bagi rekan, dinas di Cianjur ini salah satu yang terberat. Bayangkan, saya dan rekan akan mendiami satu tempat selama kurang lebih satu minggu. Biasanya, satu minggu itu untuk dua atau tiga kota. Saya harus mencari sumber daya dari lokasi ini yang akan membuat saya terkesan dan mampu melewatkan satu minggu. Ada beberapa hal, pemandangannya yang indah, dua bukit yang hijau, udaranya yang sejuk, penduduk sekitar yang ramah, ibu kantin dan nenek penjual karedok.
Ternyata bukan hal-hal itu yang membuat saya terkesan pada akhirnya. Ada seseorang yang menarik dan memberikan inspirasi lebih. Seseorang itu datang pada hari yang sama, ia bersama rekan panitia yang lain, saya dengan tim. Perlu saya beri gambaran, training yang saya dan tim adakan di lokasi itu lebih mengarah ke petualangan. Selain kami berempat sebagai Trainer dari kantor pusat, dibantu pula oleh beberapa leader tenaga pemasaran yang bertugas sebagai panitia. Dari seluruh panitia, seseorang ini salah satu yang belum saya kenal. Cara berkenalannya pun tidak dengan cara sewajarnya berjabat tangan, cukup dengan saling bertatapan dan saya sedikit anggukkan kepala, pun tidak saling bertukar nama, jika tidak salah ingat ya.
“Hey ‘Na! Mobil lo dimajuin dikit, biar mobil yang satunya bisa masuk, terus mobil lo dimasukin juga.” Seorang panitia terlihat sibuk. Seorang wanita terlihat dengan sigap menuruti intruksi rekannya itu.
“Itu yang namanya Dona Ry. Masih sendiri tuh.” Rekan saya memberitahu.
So what kalo masih sendiri, pikir saya. Yang saya perlu tahu hanya namanya. Dona. Hmm… Langsung tervisualisasi iklan kopi yang beberapa tahun lalu sempat popular. Dona yang ini berbeda, tapi apa ya yang membuatnya berbeda? Petualangan berkomunikasi pun dimulai.
Kontak pertama, rapat panitia dan trainers, tidak ada perkembangan. Komunikasi hanya dilakukan dengan bahasa non verbal yaitu sesekali kontak mata. Tidak ada percakapan langsung antara saya dengan ‘Na. Tapi saya tahu, ada pesan terkandung di matanya. Ini bisa jadi pembuka. Meskipun pada akhir pertemuan, disepakati untuk menyusuri kembali jalur untuk besok, saya memilih untuk tetap berada di tempat untuk menyiapkan yang lain, proses komunikasi terhenti.
Kontak kedua, rapat lanjutan panitia dan trainers, tetap menitikberatkan pada non verbal dan kontak mata. Karena ruang pertemuan yang lebih sempit, jarak pandang kami menjadi lebih dekat. Keengganan saya untuk berkomunikasi langsung masih kental. Batasan antara trainer dan leader masih kuat. Cara paling efektif tetap dengan kontak mata. Untuk itu, beberapa kali saya berusaha mencari posisi yang berhadapan dengannya.
Kontak ketiga, rapat terakhir panitia dan trainers. Di pagi itu, walaupun rekan saya yang memimpin rapat, saya menyempatkan nongol. Tak memikirkan belum mandi, badan masih bau kecut dan masih terlihat muka bantal, yang penting proses komunikasi dengan ‘Na bisa berlanjut. Dan, ternyata benar apa yang saya pikir. Komunikasi makin terarah. Sudah terjadi sedikit interaksi di antara kami, meskipun masih dalam tahap basa basi. Sorot matanya masih menyimpan sesuatu. Saya jadi bertanya kepada diri sendiri. Atau karena itu pengaruh besar dari kondisi saya yang belum mandi saat itu? Hehehe… Berarti ketika ia duduk di samping saya pastinya ia begitu tersiksa. Waduh?! Ah, saya anggap itu bumbu dalam mencapai komunikasi yang efektif, pembenaran yang konyol bukan? Hehehe…
Kontak keempat, doa bersama di lapangan. Sesi sederhana namun penting ini sengaja saya adakan untuk lebih menyiapkan mental panitia yang juga berperan penting di lapangan sebagai fasilitator permainan. Mereka yang akan berinteraksi langsung dengan peserta yang semuanya adalah manager. Saya lihat ‘Na memperhatikan dengan seksama kalimat-kalimat yang keluar dari mulut saya. Saya lihat matanya, ada fokus tingkat tinggi di dalamnya. Hmm, ciri seorang yang memiliki dedikasi dan keseriusan terhadap apapun.
Kontak Kelima, dalam acara permainan. Acara team building melalui permainan di lapangan sudah berlangsung. Setelah memastikan jalur pintu keluar untuk tiap-tiap peserta, saya kembali menuju lapangan untuk melihat dinamika yang terjadi. Persis di tengah lapangan rumput tersebut, saya lihat ‘Na dengan wajah serius memperhatikan kelompok yang difasilitasi olehnya bermain. Saya lihat ketegangan di raut wajahnya. Bergegas saya hampiri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Hmm, terjadi perdebatan sengit antara dirinya dengan salah satu peserta di kelompoknya. Untuk beberapa saat saya biarkan, hanya amati, sampai akhirnya saya sedikit mengambil komando. Tanpa banyak berucap, saya ambil alat permainannya, saya minta kelompok tersebut mengulang kembali formasi permainan, untuk kemudian alat tersebut saya serahkan kembali. Saya lihat mata ‘Na, ada kekesalan di sana.
Kontak keenam, beberapa saat sebelum sesi pembahasan. Saya berdiri di dekatnya yang memang tidak jauh dari panggung yang merupakan tempat saya memimpin sesi pembahasan nanti. Saya lihat matanya kembali, kali ini ditambah senyuman. Tapi saya lupa, apakah senyuman saya berbalas ketika itu.
Kontak ketujuh, saat api unggun. Berdasarkan agenda acara, sesi kami dari tim kantor pusat sudah selesai. Saatnya kami kembali ke sarang untuk istirahat. Saya sempatkan melihat ‘Na yang berdiri tak jauh dari saya. Matanya kali ini sedikit bicara. Mungkin mengajak saya menyantap hidangan yang tersedia, jagung bakar, kambing guling atau sekedar bandrek. Kontak mata masih menjadi andalan kami.
Esok harinya saya dan tim memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat lebih. Kami sangat membutuhkannya, karena siang itu akan datang peserta lain yang juga bekerja sama dengan kami. Sebelum siang kami beranjak mencari makan, tak jauh kami berjalan, terlihat mobil milik ‘Na keluar dari rumah penginapannya menuju lokasi acara.
“Selamat jalan ‘Na, semoga kita bisa bertemu lagi dan melanjutkan proses komunikasi yang belum tuntas ini.” Ucap saya dalam hati.
Beberapa hari setelah itu, dalam perjalanan menuju tugas berikutnya di Sukabumi, saya mendapatkan informasi tentangnya dan berhasil menghubunginya. Hmm, meski terbantu teknologi (chat), kali ini tanpa tatapan mata. Perlu beberapa menit berpikir bagaimana memulai. Saya harus cairkan suasana.
“Permisi Neng, numpang tanya, kalau rumah Pak Lurah itu di sebelah mana ya?” Kalimat pertama yang terkirim melalui chat.
“Wah, boleh bang. Rumah Pak Lurah ya, abang terus aja, ketemu perempatan belok kiri trus ikuti jalan, nah tidak jauh dari situ ada rumah warna biru.” Balasnya.
“Warna biru bukannya wartel Neng?”
“Iya, Pak Lurah juga usaha wartel.”
Entah berapa kali kami berbalas pesan di siang itu. Sampai saatnya saya secara resmi memperkenalkan diri.
“Salam jumpa kembali ya ‘Na.”
“Iya, salam jumpa kembali juga.”
Setelah itu proses komunikasi menjadi lebih cair. Apakah karena kami tidak bertemu langsung? Seakan terlindungi oleh teknologi yang memungkinkan berkomunikasi dengan berbalas kalimat. Dari sini saya semakin mengerti, sekali lagi, tidak ada orang yang tidak ingin berkomunikasi. Awalnya saya pikir, ‘Na resisten terhadap saya. Namun saya paham, diperlukan cara dan pendekatan lain untuk membuatnya keluar dari kenyamanan perlindungan komunikasinya. Kemudian, segalanya ternyata saling terkait. Benar adanya, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua tahap demi tahap, kontak demi kontak yang saya formulasikan di atas ternyata disadari betul oleh ‘Na, mulai dari kontak pertama sampai ketujuh. Dalam percakapan kami baru-baru ini, ia mengaku menyadari itu. Ia merasa ada yang ingin mengajaknya berkomunikasi, ternyata orang itu adalah saya. Hmm, ada niat positif dibalik tiap tindakan, luar biasanya sebuah komunikasi.
Sekarang kami merasa seperti sobat lama yang dipertemukan kembali. Kontak mata yang beberapa kali terjadi sebelumnya justru memiliki peran penting terjadinya komunikasi yang efektif di antara kami. Secara sederhana, saya sudah mengalami dan membuktikan ampuhnya kedua cara berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal. Namun, baru kali ini saya merasakan keefektifan cara non verbal. Yang saya pakai adalah kontak mata dan senyum. Perlu klarifikasi dan komunikasi lebih lanjut untuk cara yang ini. Karena bila tidak, akan sia-sia saja dan tetap memunculkan persepsi masing-masing. Kami bukan saling resisten, hanya perlu fleksibel dengan mengubah caranya. Percayalah, pasti ada caranya. Nah, proses komunikasi saya dan ‘Na bisa dikatakan berjalan baik, tinggal bagaimana kami mempertahankannya. Indahnya berkomunikasi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar