Jumat, 21 Oktober 2011

Ketidaknikmatan Sesaat

Pernah satu hari, saat pulang kerja, saya dilanda kebingungan. Sederhana memang, saya bingung pulang. Transportasi apa yang nyaman di Jakarta yang bisa mengantarkan saya dengan kenikmatan sampai ke rumah di Bekasi. Oh ya, hari itu saya kesampingkan yang namanya taksi, maklum, tanggal tua.
          Biasanya, saya rutin naik kereta ekspres dari Stasiun Sudirman menuju Stasiun Bekasi, lalu dilanjutkan dengan motor dari penitipan ke rumah saya di daerah Pekayon sana. Sampai saat ini, rutinitas itulah yang paling nyaman yang bisa saya pilih. Dulu sempat beberapa tahun saya kekeuh naik motor dari tiap hari. Hemat memang, namun saya sadari, tidak hemat untuk kondisi tubuh saya. Bayangkan, tiap dua bulan sekali saya harus menghadap dokter untuk wajib lapor karena kesehatan terganggu. Diagnosa dokter selalu sama, saya terlalu lelah, butuh istirahat. Saya pikir, kasihan juga tubuh saya ini jika selalu seperti itu. Makanya, atas saran seorang sobat, saya ubah pendekatan saya ke kantor, beralih dan bergabung menjadi roker (rombongan kereta) atau anker (anak kereta). Lebih mahal memang, tapi lebih menyenangkan dan menyehatkan. Sampai saat ini, terhitung sudah setahun lebih saya menggunakan jasa kereta listrik, dan yang pasti, saya merasa nyaman. 
          Kembali ke hari kebingungan saya. Hari itu sengaja tidak membawa motor, karena ada janji bertemu seorang teman sepulang kerja. Pulangnya pasti malam, inginnya saya langsung ke rumah. Tidak perlu repot malam-malam ke penitipan untuk ambil motor. Rencana boleh berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan. Janji untuk bertemu batal. Bagi sebagian orang itu hal yang lumrah, tapi bagi saya, perlu ditata ulang bagaimana saya pulang. Kalau saya tetap naik kereta, saya harus menyambung ojek lagi ke rumah. Kalau saya naik bus kota, waduh tak terbayang macetnya, Bekasi gitu lho. Ah, saya ingat, ada bus yang langsung ke komplek saya di Bekasi. Tapi, saya harus menunggunya di tempat yang agak jauh, saya harus naik metro mini untuk sampai ke sana. Perlu Anda ketahui, metro mini adalah salah satu sarana transportasi yang saya hindari, entah mengapa, tidak nyaman saja. Oh iya, ada juga omprengan, mobil-mobil pribadi yang sengaja kursinya disewakan bagi penumpang yang searah. Ah, itu juga saya hindari, saya tidak suka duduk berhimpitan dengan penumpang lain, apalagi kaum wanita. Tidak tega rasanya, melihat mereka menahan nafas karena berhimpitan dengan saya yang punya tubuh agak ekstra ini. Jadi, dengan apa saya pulang?
          Sedang seru-serunya dilanda kebingungan, seorang sobat mengabari, kereta ke Bekasi ditiadakan dengan alasan kerusakan. Namun, ia dan istrinya tetap pulang dengan alternatif kereta yang lain. Wah, sempurna, makin menambah bobot kebingungan saya. Padahal, pilihan terbaik saya adalah tetap menggunakan kereta. Tanpa saya sadari, perilaku kebingungan saya itu justru membuka jalan pikiran. Rasa kebingungan itu malah menambah sumber daya dan pilihan. Proses analisa dan berpikir pun terjadi. Anda bayangkan, untuk memilih transportasi pulang saja saya harus seperti itu. Intinya, harus nyaman. Saya tidak mau berdesak-desakan, tidak mau panas, tidak mau, tidak mau dan banyak tidak mau yang lain.
          Akhirnya, saya tetapkan mengikuti saran sobat tadi, menggunakan kereta yang lain. Saya bergegas menyusulnya ke stasiun. Tak biasanya stasiun penuh, meski dengan karyawan yang penampilannya perlente, tapi tetap saja, sumpek. Di sana sini terlihat beberapa orang berkumpul dan mencari solusi mencari alternatif kendaraan pulang. Wah, pasti itu penumpang Bekasi juga. Di dekatnya, sobat saya dan istrinya berada.
          ”Ry, yang paling logis kita naik kereta lingkar, memutari Jakarta dan nanti kita turun di Stasiun Jatinegara.” Katanya.
          ”Pukul berapa tuh kereta lingkar?” Tanya saya.
          ”Delapan lebih berangkat dari Manggarai.”
          ”Dari Jatinegara, kita naik apa?” Tanya saya lagi.
          ”Kalau tidak salah, ada kereta ekonomi AC dari Kota.”
          Hmm, masih lebih baik deh, naik kereta ekonomi yang berpendingin, daripada naik yang benar-benar ekonomi. Sejam kemudian kereta lingkar itu datang. Selama perjalanan saya perhatikan perbedaan isi kereta lingkar dengan kereta ekspres yang biasa saya tumpangi. Berbeda gaya, pembawaan dan penuh kesederhanaan. Biasanya, di kereta ekspres, orang sibuk dengan ponselnya masing-masing, sms, chatting, browsing, tanpa peduli sekitarnya. Tapi di kereta ini sedikit berbeda, tiap jengkal langkah ada interaksi yang terjadi, menarik ini menarik.
          Kira-kira satu jam kemudian, kereta lingkar tiba di Jatinegara, saatnya kami turun untuk segera ke loket untuk membeli tiket kereta lanjutan ke Bekasi. Baru saja kaki ini melangkah menjauhi kereta, pengeras suara mengumumkan akan masuk kereta ekonomi tujuan Bekasi di jalur persis di sebelah kereta lingkar berhenti. Saya tatap wajah sobat saya yang juga sedang menatap saya.
          ”Ry, naik ekonomi sepertinya boleh juga.”
          ”Waduh? Oke deh, apa boleh buat.”
          Saya menjawab tanpa berpikir. Tujuan penting malam itu adalah secepatnya sampai di rumah. Saya percaya, kemampuan mengubah proses dimana kita mengalami realita, sering lebih bermanfaat daripada mengubah isi dari pengalaman kita akan realita.
          Seperti yang saya duga, kereta ekonomi itu datang dengan penumpang yang penuh. Kami beranikan masuk ke salah satu gerbong. Saya sibuk dengan tas berisi laptop, dan saku celana yang berisi ponsel. Istri sobat mengingatkan untuk selalu waspada. Kereta ini berbeda dengan ekspres. Untuk sesaat, saya merasa asing di kereta itu. Agak sulit mencari tempat berpegangan. Tapi, muncul keheranan, saya tidak berpegangan tapi stabil. Oh, ternyata punggung saya berdempetan dengan punggung orang lain di belakang saya, secara posisi kami saling menguatkan. Wah, hal yang tidak pernah terjadi jika saya menumpang kereta ekspres. Inikah yang namanya kebersamaan dalam kesederhanaan? Ah, saya tidak terlalu peduli, sekali lagi, yang penting cepat sampai rumah. Selanjutnya, hal-hal yang lebih menarik terjadi. Orang saling menjaga. Anda pasti tahu, pintu kereta ekonomi itu paling malas menutup atau dibiarkan terbuka. Yang saya perhatikan, orang-orang yang berdiri di dekat pintu mempunyai tugas lebih. Selain memastikan dirinya aman, mereka juga menahan orang untuk terdorong ke luar. Selain itu, sering pula mereka membantu orang yang akan naik dan turun dengan mengulurkan tangannya. Hal yang tidak pernah saya lihat di kereta ekspres. Di kiri, kanan, depan, belakang, semua orang terlibat percakapan. Di kereta ini, jarang sekali saya lihat orang sibuk dengan ponselnya. Karena rasa takut karena kereta ini ekonomikah? Kalau begitu, rasa takut itu bermanfaat lebih, karena kita bisa saling tatap dengan orang lain, senyum dengan orang lain atau bahkan memulai pembicaraan mengenai hal apa pun. Komunikasi berjalan lebih efektif di kereta ini.
Banyak yang saya pelajari selama perjalanan tadi. Saya terlena dengan kenikmatan, kenyamanan. Saya sering katakan di dalam pelatihan, seribu cara untuk satu tujuan, tapi saya tidak lakukan itu. Saya memaksa dengan satu cara untuk seribu tujuan. Ah, saya malu. Di sini saya memahami bahwa orang dengan pilihan terbanyaklah yang menguasai sistem. Tidak hanya fokus pada cara paling benar menurut saya, tapi yang paling bermanfaat. Kalau mau paham, lakukan. Sampai di Bekasi, saya turun dengan senyum. Terima kasih atas ketidaknikmatan sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar