Sabtu, 22 Oktober 2011

Mpii…!!


saya berisik, sebelah kanan saya sepi. Sobat saya ini termasuk pendiam, tidak suka banyak bicara, hanya seperlunya saja. Tapi, apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat rasa ingin tahu saya terhadap Mpi bertambah. Tiba-tiba saja, seiring kedatangan sobat saya tadi, ia menjadi pendiam. Saya menoleh ke arahnya, Mpi duduk manis dengan senyum yang, hmm... lumayan manis untuk gadis seberisik dia.
”Kenapa lo, koq tiba-tiba jadi diam gitu? Keselek bala-bala?”
Mpi tidak menjawab, tapi saya mulai mengerti gelagatnya. Dengan cepat dan tanggap, saya geser kursi saya agak ke belakang, saling berkenalanlah mereka. Sepengetahuan saya, setelah berkenalan, mereka makin dekat. Tentunya saya juga sering berada di dekatnya. Sekedar mencari tahu apa yang sedang terjadi antara Mpi dan sobat saya.
”Sepertinya ada yang saling suka nih?” Goda saya pada sobat saya ketika saya mampir ke kosnya sepulang kuliah.
”Ahh, elo Ry. Sok tahu.” Katanya.
”Dia suka sama lo.” Timpal saya.
“Masa sih? Hmm, gue deketin terus ah.” Kata sobat saya sambil berlalu ke kamar mandi.  
Dalam hati saya sih, sebenarnya kedua anak manusia ini sudah memahami kalau mereka saling menyukai. Setelah percakapan itu, seingat saya, tidak pernah saya singgung lagi kedekatan mereka. Biarlah apa adanya terjadi secara alami, natural. Biarkan sumber daya cinta yang ada pada diri mereka masing-masing yang makin mengeratkan, mereka pasti memperoleh apa pun tujuan kedekatan mereka. Tidak perlu saya untuk itu. Yang saya tahu, dan tentunya saya konfirmasikan ke Mpi dan sobat saya, sebulan kemudian mereka resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Hebatnya, mereka pasangan pertama yang resmi pacaran di angkatan kami, hahaha...
Tahun berganti, semester baru pun tiba. Beredar kabar yang berisi sobat saya Mpi akan menikah, karena dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang tentara. Terkejut saya mendengarnya. Saya tanya ke sobat saya yang kala itu masih berstatus pacarnya. Sobat saya tidak menjawab. Ia hanya menyampaikan bahwa sudah dikenalkan kepada seorang pria ketika berkunjung ke rumah Mpi. Pada kesempatan pertama bertemu Mpi di kampus, saya tanyakan langsung. Jawaban yang saya terima hanyalah kebingungannya. Ia mengaku sedang berada di posisi yang membingungkannya. Buat saya, ada yang hilang dari Mpi. Keceriaannya berkurang, berisiknya hilang, berganti menjadi seorang Mpi yang serius dan jarang bicara. Berulang kali saya bicara dengannya, dan tetap menghasilkan kebingungan demi kebingungan. Dalam sebuah sore setelah kuliah, saya dan Mpi berjalan berdampingan menuju gerbang depan kampus.
”Ada dua pria dalam hidup Mpi. Yang pertama adalah sobat lo, yang kedua adalah pria yang dikenalkan orang tua Mpi. Nah, pria yang kedua ini sudah menyatakan ingin mempersunting Mpi. Kalau  diterima, Mpi akan segera menikah dengannya, dan dengan berat hati Mpi akan meninggalkan bangku kuliah.” Papar Mpi kepada saya.
”Mpi pilih yang mana?” Tanya saya.
”Bingung ah Ry.” Katanya.
”Lho, lo harus memutuskan dong Mpi. Apapun pilihan lo, itu yang terbaik buat lo saat ini. Apalagi menyangkut masa depan lo. Memang, masing-masing ada konsekuensinya. Tapi, lo tetap harus memilih. Apalagi orang tua lo udah menyerahkan semuanya ke lo.”
”Maksud lo pilihan terbaik saat ini apa sih Ry?”
”Ya maksud gue, lo harus memilih yang sesuai dengan isi hati lo dong. Nah, kalau sesuai, yakin deh itu pilihan yang terbaik untuk lo saat ini. Contoh, kalo lo memilih hari ini, ya itu yang terbaik hari ini, ngga tahu besok atau lusa.”
“Koq gitu?”
“Lha iya dong. Kita kan terbiasa menunda-nunda dalam memutuskan. Justru, buat gue, makin lama menunda, bukannya malah mencerahkan, malah makin runyam pikiran. Iya kan?”
”Iya juga sih Ry, kadang-kadang pintar juga lo.”
”Asem lo Mpi.”
”Gue akan bertanya ke Allah Ry. Gue akan sholat istikharoh.”
Saya hanya senyum ke arahnya dan menganggukkan kepala tanda setuju. Ketika kebingungan dan keresahan melanda pikiran, memang seharusnya solusi paling mujarab adalah mengadu kepada-Nya, dan Mpi memanfaatkan itu. Tak semestinya kebingungan betah dalam pikiran dan hati kita. Bicarakan dan tanyakan saja langsung pada Sang Maha Mengetahui, Allah SWT. Terlalu sia-sia pikiran dan hati kita jika terus dilanda kebingungan seperti yang sobat saya Mpi rasakan.
Beberapa hari kemudian, juga sepulang kuliah, Mpi mengajak saya makan bakso di dekat gerbang depan kampus. Wajahnya terlihat berbeda, lebih banyak senyum. Cengar cengir kecentilan yang jadi ciri khasnya muncul lagi. Memperhatikannya seperti itu, saya senang bukan kepalang. Tapi, kesenangan tersebut tak berlangsung lama. Hanya bertahan sesampainya kami di warung bakso.
”Ry, gue udah memutuskan. Gue akan menikah dan meninggalkan semua kemeriahan kuliah.”
Rasa bakso dan kuahnya jadi hambar seketika itu juga. Saya tidak bisa berkata-kata. Secepat itukah saya kehilangan sobat yang menyebalkan sekaligus menyenangkan ini?
”Kapan Mpi?” Tanya saya sambil menahan kesedihan.
”Yang pasti tahun ini, bulan dan tanggalnya harus dibicarakan lagi.” Jawabnya.
”Gue juga udah bilang ke sobat lo koq. Gue bilang, keputusan ini adalah pilihan terbaik gue saat ini. Dan di sini gue tekankan ke lo ya Ry. Gue ngga dijodohin, ini gue yang mau juga.”
”Iya Mpi, gue tahu. Pilihan lo terbaik saat ini, diantara pilihan terbaik lainnya.”
Hari itu saya mempelajari sesuatu. Untuk seorang gadis muda, Mpi ternyata memiliki kematangan lebih. Di awal perkenalan, saya ingat, ia hanya gadis manja yang hanya ingin senang-senang. Tapi, sebuah pilihan hidup sudah diputuskannya. Sebuah pilihan yang mungkin akan dihindari oleh gadis-gadis lain seusianya. Pilihan itu bukan hal yang main-main. Ia harus meninggalkan kemeriahan dunia kampus yang baru berjalan hitungan bulan. Saat itu saya hilangkan rasa sedih saya. Kesedihan akan kehilangan Mpi, seorang yang mewarnai hari-hari saya di awal bergelut dengan hiruk pikuk kampus. Dengan wajah tersenyum, kami berpisah di pinggiran Jatinangor.
”Lo pasti cantik saat menikah nanti Mpi. Hati lo juga cantik, karena lo memilih ini dengan hati. Ini memang pilihan terbaik lo saat ini. Semoga bahagia ya Mpi.” Ucap saya dalam hati, sambil memperhatikannya naik ke angkutan kota.
Sebelas tahun kemudian, setelah sekian lama tidak berkomunikasi dengannya, tepat sehari sebelum saya menuangkan tulisan ini. Kami berbicara melalui telepon. Bicaranya masih sama seperti dulu, masih Mpi yang saya kenal, berisik dan suaranya itu lho, cempreng pisan, hehehe... Dan satu hal, saya pastikan ia bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar