Dalam sebuah perjalanan dinas, saya menemukan beberapa kali orang menanyakan satu pertanyaan yang sama. Mengapa saya tidak tergerak untuk menjadi seorang tenaga pemasar, padahal pekerjaan saya adalah melatih tenaga pemasar tersebut. Biasanya, setelah pertanyaan dilontarkan, menyusul beberapa pernyataan lain. Seperti, betapa nikmatnya menjadi tenaga pemasar di perusahaan saya, bisa banyak uang, bisa menolong orang, terbebas dari rutinitas sebagai karyawan dan lain sebagainya. Biasanya juga, saya menjawab semua itu hanya dengan senyuman. Dan biasanya juga, si penanya akan mengerti apa yang ada di balik senyuman saya itu.
Tetapi tidak untuk seseorang berikut ini. Ia saya kenal di Malioboro, sudut paling terkenal di kota Yogyakarta. Saya tidak perlu sebutkan namanya, biar asyik, saya sebut saja Mba’e Gudeg. Ketika saya mampir ke warungnya, saya berharap untuk tidak berlelah-lelah bicara. Saya baru selesai mengisi pelatihan satu hari penuh di salah satu kantor pemasaran di kota ini. Saya ingin segera menyantap hidangan khas Yogya plus segelas es teh manis. Ternyata, yang terjadi tidak sesuai dengan rencana pikiran saya. Sambil membuatkan es teh manis, Mba’e Gudeg nyeletuk.
”Masnya dari perusahaan itu ya?” Sambil menunjuk logo perusahaan di kemeja yang saya pakai.
”Iya Mba’e, memangnya kenapa?” Tanya saya.
”Saya hampir masuk sebagai tenaga pemasarnya lho Mas.”
”Lho, kenapa hampir?”
”Masih belum berani Mas. Belum berani menjadi berbeda dari kebanyakan orang.”
”Maksudnya?” Selidik saya.
”Lha iya Mas, yang menawarkan saya untuk jadi tenaga pemasaran itu orangnya lugas, tegas, kreatif dan tampan.”
”Lho, berbedanya di mana? Saya juga tampan kan? Hehehe.”
”Maksud saya, yang nawarin saya itu bilang, ia berbeda. Bukan seperti karyawan yang tergantung oleh waktu, rutinitas dan tekanan bekerja dalam kantor. Jadinya lebih bebas gitu lho Mas. Terus, si mas itu juga bilang, menjadi tenaga pemasar itu punya kelebihan lain. Misalnya bisa jalan-jalan gratis ke luar negeri.”
”Terus, kenapa Mba’e nggak mau?”
”Bukan nggak Mas, tapi belum mau.”
“Oh iya, kenapa belum mau?”
”Karena saya masih memilih untuk di sini. Pilihan ini masih yang terbaik buat saya Mas.”
Saya jadi teringat salah satu prinsip dalam suatu pelatihan. Keputusan dibuat berdasarkan pilihan terbaik saat itu di antara pilihan-pilihan terbaik lainnya. Setiap orang memiliki sumber daya yang dibutuhkan, dan bisa memperolehnya. Saya yakin, sebenarnya Mba’e ini sangat tertarik tawaran menjadi tenaga pemasar. Namun, ia telah memilih yang terbaik untuknya saat itu. Dan kita patut hargai itu.
”Terus, Masnya ini sama kan? Tenaga pemasar juga?” Tanyanya buyarkan lamunan saya.
”Oh, bukan koq Mba’e, saya bukan tenaga pemasarnya. Saya staf perusahaan ini. Tepatnya, di bidang pelatihannya.”
”Lho, tidak boleh menjual?”
”Tidak boleh Mba’e. Kalau ingin menjadi tenaga pemasarnya, saya harus berhenti dulu dari posisi saya sebagai staf perusahaan.”
”Nggak tertarik Mas?”
”Sama seperti jawaban Mba’e, mungkin belum. Saya masih menikmati posisi dan pekerjaan saya sekarang.”
”Memang, Masnya kerjanya ngapain?”
”Saya seorang vitamin Mba’e. Saya ada ketika dibutuhkan. Untuk saat ini, bagi saya, profesi ini adalah pilihan terbaik. Sama seperti Mba’e, saya bisa bermanfaat untuk banyak orang dari sisi yang mungkin berbeda dengan tenaga pemasar. Saya ini ibarat vitamin bagi para tenaga pemasar, kadang dibutuhkan kadang tidak.”
”Hahaha, ada ada saja sih Mas. Lha kalau sedang tidak dibutuhkan bagaimana Mas?”
Pertanyaan bagus, yang sekaligus menohok pikiran saya.
”Maksud saya, kalau tidak dibutuhkan di kota ini, saya pasti berada di kota lain. Kan perusahaan ini jaringannya sudah luas, ada di hampir semua kabupaten di seluruh Indonesia lho Mba’e.”
Luar biasa perbincangan kami. Hanya lelah tubuh yang membuat saya harus undur diri dari warung itu untuk kembali ke hotel yang letaknya tak jauh. Saya salut sama Mba’e. Mba’e juga orang yang berbeda, mau berdedikasi dengan pilihannya, meski menjadi penjaga warung makan. Setiap orang mengendalikan pikirannya masing-masing, oleh sebab itu, mereka bertanggung jawab terhadap hasil yang dicapai. Perilaku yang ditunjukkan si Mba’e secara tegas menambah sumber daya dan pilihannya akan masa depan. Walaupun ia memilih untuk belum berubah, setidaknya ia sudah memiliki beberapa pilihan dalam hidupnya. Orang yang memiliki pilihan lebih banyaklah yang menguasai sistem. Sistem apa? Untuk saat ini, sistem hidup yang dijalani oleh si Mba’e. Sistem hidup untuk lebih bermanfaat bagi orang lain, meski hanya berwujud segelas es teh manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar