Saya ini penggemar film, hampir tiap hari dipastikan saya menonton satu film, baik film lokal maupun film interlokal. Sudah lama tidak ada film nasional yang mampu menggugah rasa haru saya, sampai saya menonton satu film yang berjudul ”Emak Ingin Naik Haji”. Sebenarnya saya sudah pernah baca resensi dan ulasannya di salah satu surat kabar. Ketika itu saya tidak tergiur sama sekali untuk menontonnya. Sampai suatu saat saya melihat kepingan film itu di salah satu pusat perbelanjaan. Entah mengapa, tanpa pikir panjang lagi, saya beli film itu. Langsung saya niatkan, hari Minggu berikutnya saya harus menonton film ini.
Minggu pagi, saya sudah mandi, sarapan dan siap memenuhi niat saya terhadap saya sendiri untuk menonton film tersebut. Permaisuri sepertinya tidak tertarik ikutan menonton. Alasannya, lagi tidak mau sedih dan menangis, karena ia tahu film itu menguras emosi. Ia lebih memilih menonton film yang ada di televisi berbayar yang ada di kamar. Lho koq gitu? Tapi, biar bagaimana juga, saya hargai ketidaktertarikannya.
“Nah, Panda akan lebih menghargai Manda lagi kalau Manda mau membuatkan Panda camilan untuk menemani nonton. Buatin pop corn ya?” Pinta saya.
Tanpa menjawab, permaisuri bergegas ke dapur. Dalam hitungan menit, jagung putih nan harum sudah ada di samping saya, hehehe... Luar biasa.
Dari judul filmnya saja, saya sudah mampu menebak jalan cerita film ini. Yang membuat saya penasaran, isi lain dari film ini, bagaimana prosesnya, sampai si Emak itu benar-benar naik haji. Di kisahkan, si Emak bercita-cita mulia, ingin naik haji. Walaupun sudah masuk usia lanjut dan hidup dengan kesederhanaan, semangatnya tidak pernah pudar. Dibantu anaknya, ia berusaha semampunya. Tapi, apa yang menarik? Film ini menjadi menarik bagi saya ketika si Emak hanya memiliki uang tabungan lima juta rupiah. Itu pun hasil menabung selama bertahun-tahun. Ongkos naik haji diperkirakan tiga puluh jutaan, lalu sampai berapa lama lagi si Emak harus menabung?
Sadar dengan kondisinya seperti itu, apakah Emak menyerah? Tidak sama sekali. Harapannya tidak pernah hilang. Luar biasanya, Emak menyetorkan uang lima juta rupiah itu ke dalam rekening tabungan haji. Mengapa saya bilang luar biasa? Karena si Emak tengah bersiap, bersiap untuk naik haji, walaupun belum tahu kapan. Seorang bijak mengatakan, Tuhan suka dengan orang-orang yang berusaha dan mempersiapkan tujuan dan kesuksesannya. Tuhan akan memberikan anugerah ketika kita siap, sekali lagi, ketika kita siap. Bayangkan, apa jadinya jika Tuhan memberikan anugerah kesuksesan ketika kita tidak siap menerimanya.
Selain membuka tabungan haji, Emak juga mempersiapkan keberangkatan hajinya dengan cara lain. Cara yang lebih mulia. Ia membantu tetangganya yang kaya raya untuk syukuran menjelang umroh sekeluarga. Padahal itu umroh yang kesekian kalinya bagi keluarga itu. Coba Anda rasakan, apa perasaan Emak ketika berada di rumah keluarga itu. Sedih karena tidak mampu? Sekali lagi tidak. Emak justru terlihat semangat membantu keluarga itu. Secara tidak sadar, Emak sudah melatih mentalnya. Ia mempersiapkan hatinya untuk pergi. Hanya orang-orang yang memiliki hati mulia seperti Emak yang layak pergi.
Di rumah, Emak memasang foto-foto dan lukisan Masjidil Haram dan Ka’bah. Tujuannya, agar setiap ia bergerak di rumahnya yang sempit itu, ia selalu bisa melihat tujuan mulianya itu. Sebuah penguatan goal setting? Sederhana memang, namun ampuh. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Emak berusaha mengeluarkan sumber daya yang ada dalam diri dan sekitarnya. Sampai di akhir film dikisahkan, Emak dan anaknya berangkat naik haji berkat hadiah dari anak tetangganya.
Pop corn tak tersisa, tapi mulut saya tidak bisa diam. Saya ingin ada kesibukan lain, agar air mata tak terlalu banyak jatuh. Sesekali permaisuri keluar kamar dan cengar cengir melihat gelagat saya. Kemudian ia membawakan saya segelas teh manis hangat.
”Biar Panda lebih tenang. Bagus kan filmnya?”
Saya tidak menjawab, hanya tersenyum sebagai wujud terima kasih.
Dalam hati saya bertanya, apa yang sudah saya persiapkan untuk kesuksesan saya? Apa tujuan saya sebenarnya dalam hidup ini? Atau, sekarang saya sudah sampai di tujuan yang pernah saya tetapkan? Apakah saya sudah mengeluarkan semua sumber daya yang ada di dalam diri saya untuk mencapai tujuan saya? Apakah saya sudah bermanfaat bagi orang lain seperti Emak dalam film itu?
Menitikkan air mata ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul di pikiran saya. Saya bangkit dan melihat sekeliling rumah seraya berucap, Bismillah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar