Sabtu, 22 Oktober 2011

Katakan Cinta dan Sayang Yuk!


Menjelang datangnya Ramadhan, ingatan saya kembali ke beberapa tahun lalu dimana saya masih mengandalkan orang tua untuk hidup. Ada satu ungkapan yang membuat saya mengingat momen ini, cinta sejati. Beberapa sobat bertanya, apakah saya percaya dengan yang namanya cinta sejati. Dengan secepat-cepatnya respon, saya langsung mengiyakan. Nah, biasanya, pertanyaan lanjutannya nyeleneh. Mengapa begitu? Karena biasanya, pertanyaan berikutnya adalah, dengan pacar yang mana cinta sejati itu saya berikan. Biasanya juga, saya langsung sewot, sedikit sih. Saya bilang, memang cinta itu cuma milik pacar, kekasih, yayang atau apa lah istilah lainnya.  
Bulan Ramadhan bagi saya ketika itu adalah saat dimana saya bisa menikmati makanan dengan menu terpilih. Saya punya emak (nenek), masakannya lezat bin mantap. Apa saja bahan yang disentuhnya dapat menjadi menu terlezat melebihi kelezatan rumah makan terkenal, walah, berlebihan ya? Tak apa, emak sangat pantas mendapat penghargaan terhebat, apalagi dari cucu bungsu seperti saya.
Di salah satu sahur, emak pernah mengatakan sesuatu. Menurutnya, ketulusan cinta dan kasih sayangnya dialirkan melalui makanan yang meresap ke dalam tubuh siapapun yang menikmatinya, luar biasa dahsyat. Tidak pernah terpikirkan bukan? Awalnya saya tidak. Tetapi ketika pada satu sahur emak mengatakan itu, saya sadar. Saya sadar, kita dapat mengungkapkan cinta kepada siapa saja, dalam bentuk atau hal yang paling sederhanapun. Tentunya disesuaikan dengan keutuhan perasaan dan ketulusan untuk mengungkapkannya. Mengatakan atau memberikan cinta kepada seseorang itu mudah, namun yang emak tanamkan waktu itu, kepada siapanya itu yang penting. Sesuaikah dengan isi hati, atau cuma tercuat di bibir saja tanpa hati kepada sembarang orang. Yang emak sering lakukan ternyata bukan mengatakan cinta, melainkan memberikan cinta. Baginya, memberikan cinta itu lebih luas dan bermakna dari sekadar mengucapkannya.
Semua yang dikatakan emak membuat saya berpikir. Hmm, pantas, di keluarga saya, mengatakan cinta atau sayang kepada anggota keluarga lain adalah hal yang langka. Saya malah tidak pernah ingat kapan terakhir saya mengatakan cinta kepada mama saya. Atau bahkan tidak pernah? Yang saya ingat, saya terakhir mengatakan cinta kepada seorang gadis manis di sekolah, tentunya berakhir dengan penolakan yang manis pula, heheheh... Untuk mama, yang saya ingat, saya berusaha menjadi anak yang dibanggakan, tidak pernah membuat mama marah, membantunya dalam mengurus rumah, tiap hari dapat tugas mengepel lantai, langsung laksanakan walau beberapa kali sempat menggerutu. Apakah itu perwujudan pemberian cinta dari saya untuk mama? Saya rasa tidak, saya harus segera berlatih untuk sering mengatakan dan memberikannya. Saya akan mulai dengan mengatakannya. Namun, rasa malu seakan lebih kuat. Semua keluarga sedang berkumpul untuk menikmati santap sahur. Kalau saya ujug-ujug mengatakan cinta dan sayang kepada mama dan seluruh keluarga, tak terbayangkan reaksi mereka. Mungkin kedua kakak saya akan melongo sambil memeriksa apakah saya sedang kerasukan setan atau jin, heheheh... Saya harus cari cara lain.
Masakan mulai matang, saya mulai kehabisan akal untuk mencari ide bagaimana cara mengatakan cinta saat itu juga dengan cara yang tidak membuat saya malu. Sempat terlintas dalam pikiran, mengapa saya harus malu? Toh, ini buat orang lain. Ini keluarga saya yang kadar kecintaannya tak perlu saya ragukan. Keluarga yang sudah memahami betul seluk beluk kelakuan saya sedari kecil. Keluarga yang selalu mendukung saya dalam keadaan apapun, sakit, sehat, senang, susah. Self talk yang saya lakukan seakan memberikan saya kekuatan. Muncul satu ide ketika mata saya tak sengaja melihat ke arah radio. Saya bawa radio itu ke ruang depan. Saya arahkan pemutar saluran untuk menuju ke salah satu radio kesukaan saya ketika itu. Pas sekali, terdengar suara penyiar pria yang mempersilahkan para pendengar untuk meminta lagu untuk diputar. Bergegas menuju telepon saya hubungi radio tersebut. Diterima oleh operatornya, saya meminta salah satu lagu kesukaan. Kemudian saya kembali ke ruang tengah, sudah tersaji lengkap hidangan sahur. Sambil cengar cengir saya letakkan radio di posisi strategis sehingga suaranya nyaman terdengar.
”Sahur kali ini, televisi Ai matikan ya, kita dengar lagu-lagu bagus dari radio saja.” Kata saya waktu itu.
Baru saja mau menyantap telor ceplok kesukaan saya, suara penyiar radio terdengar.
”Para pendengar, lagu berikutnya permintaan seseorang bernama Ary. Lagu ini ditujukan untuk emak, mama dan seluruh keluarganya. Pesannya, saya cinta dan sayang mama, emak dan semuanya, tanpa terkecuali. Hmm, what a good boy. Jadi ingin menyampaikannya juga pada semua pendengar, khususnya keluarga saya di rumah. Selamat santap sahur dan saya sayang semuanya. Jadi terharu. Terima kasih ya Ary. Semoga menjadi anak yang berguna untuk keluarga dan orang lain. Berikut lagu yang diminta, Forever Love dari Gary Barlow.”
“Love it has... so many beautiful faces...”
Saya tengadahkan wajah, semua mata memandang ke arah saya. Emak dan mama senyum saja, dua kakak saya terbengong-bengong, paman saya melirik untuk kemudian melanjutkan santap sahurnya. Saya? Cuma cengar cengir, tidak tahu harus bicara apa. Saat lagu diputar, jadilah sahur itu sahur terhening yang pernah terjadi di keluarga saya. Saat lagu selesai diputar, keheningan masih berlanjut, hehehe…
Minggu ketiga Juni 2010, saya bersiap menuju bandara. Pagi-pagi sekali saya diantar tukang ojeg langganan ke pangkalan bus khusus bandara di Bekasi. Sesampainya di bus, saya pilih kursi favorit saya, pojok kiri belakang. Saya sempatkan mengirim pesan singkat ke permaisuri.
”Manda, aku udah di bus ya. Doakan panda lancar. Cinta manda dan Kafka!”
“Cinta panda jugaaa..!!”
Ah, sejuk sekali membacanya. Sesaat sebelum saya masukkan telepon genggam ke saku, terdengar lagi bunyi tanda ada pesan masuk. Wah, dari mama saya ternyata.
“Ai tugas ke mana lagi?” Tanya mama di pesan itu.
“Ke Malang sampai Minggu, lanjut ke Semarang hari Seninnya dan terus ke Yogya. Kenapa Ma?” Saya balas pesannya.
“Hati-hati saja. Jangan lupa sholat. Makan yang bener. Mama doain lancar, selamat dan sehat selalu. Mama sayang Ai.” Mama kembali membalas.
Butuh waktu saya untuk membalas pesan itu. Keheningan melanda, mata saya menerawang belasan tahun lalu, teringat ketika mama mencium pipi saya, setiap hari sebelum berangkat kerja. Bagi saya, beliau terhebat. Saya usap air mata saya, tangan yang basah saya gosok-gosokkan ke baju. Saya kuatkan membalas pesan itu.
”Iya Ma, doakan lancar. Ai, Monik dan Kafka selalu sayang Mama.”
Roda bus mulai berputar, membelah sejuknya pagi Bekasi, seraya saya berucap, Bismillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar